Perlukah Goodwill Diamortisasi

Perlukah Goodwill Diamortisasi

Perlukah Goodwill Diamortisasi

Iseng-iseng membaca materi World Standard-Setters Meeting yang akan diadakan minggu depan. Jadi tertarik bahan di halaman 6 materi tersebut (mungkin lebih baik anda baca dulu). Entah bagaimana ceritanya, akan ada diskusi yang membahas bahwa goodwill akan diamortisasi (Lah, bukannya IFRS yang baru goodwill udah nggak perlu diamortisasi, kenapa balik lagi? Cape deh).

Apakah sebetulnya goodwill itu, dan perlukah goodwill diamortisasi? Mari kita analisis bersama.

Sebelum masuk ke pembahasan utama, berikut penjelasan ringannya. Buat yang belum tahu, goodwill itu kasarannya semacam kelebihan bayar ketika membeli entitas baru. Kenapa kok dikatakan kelebihan bayar? Karena harga entitas yang dibeli itu melebihi nilai tercatat entitasnya. Rugi dong? Nah, kalo yang dibeli cuma aset aja, ya istilahnya rugi deh. Tapi, karena yang dibeli ini satu entitas, dapat dianggap kita membayar lebih itu karena entitasnya menguntungkan. Ibaratnya, kalo ada kuda balap yang mahal, biasanya kuda itu kuda hitam, kuda juara (bener nggak ni istilahnya?). Jadi, ketika membeli entitas yang mahal (harga beli lebih tinggi dari nilai tercatat entitas tersebut), dunia akuntansi menganggap kelebihan bayar itu merupakan goodwill. Goodwill ini mencerminkan kemampuan menghasilkan laba lebih, yang didapat dari entitas yang dibeli itu. Nah, mari kita mulai pembahasan seriusnya.

IAS 38 paragraf 11 menyatakan bahwa,

The definition of an intangible asset requires an intangible asset to be identifiable to distinguish it from goodwill. Goodwill recognised in a business combination is an asset representing the future economic benefits arising from other assets acquired in a business combination that are not individually identified and separately recognised. The future economic benefits may result from synergy between the identifiable assets acquired or from assets that, individually, do not qualify for recognition in the financial statements.

Dari pernyataan di atas terlihat bahwa goodwill didefinisikan sebagai aset yang merepresentasikan manfaat ekonomik masa depan yang muncul dari aset-aset lain yang diperoleh dari proses kombinasi bisnis, yang mana aset-aset tersebut tidak diidentifikasi dan diakui secara terpisah.

Jika dikaitkan dengan definisi di paragraf 53, dalam Framework for Preparation and Presentation Financial Statements. Manfaat ekonomik masa depan adalah,

The future economic benefit embodied in an asset is the potential to contribute, directly or indirectly, to the flow of cash and cash equivalents to the entity. The potential may be a productive one that is part of the operating activities of the entity. It may also take the form of convertibility into cash or cash equivalents or a capability to reduce cash outflows, such as when an alternative manufacturing process lowers the costs of production.

Jika dikaitkan dengan definisi di atas, goodwill dapat diintepretasikan sebagai, daya melaba lebih (excess earning power). Sehingga, dapat dikatakan bahwa kos dari goodwill yang melekat pada harga beli entitas yang sudah beroperasi, sesungguhnya merupakan nilai kini atau nilai diskontoan dari daya melaba lebih yang dapat dihasilkan.

Berdasar kondisi ini, goodwill yang mengandung manfaat ekonomik masa depan, dapat diintepretasikan akan digunakan untuk menghasilkan daya melaba lebih di masa depan. Namun, karena kemampuan entitas untuk menghasilkan laba di masa depan pada dasarnya tak dapat ditentukan secara pasti, dapat dikatakan bahwa goodwill memiliki manfaat eknomik masa depan yang taktentu (indefinite). Hal ini menyebabkan goodwill tidak dapat (bukan tidak perlu) diamortisasi. Kenapa?

Secara konsep, amortisasi/depresiasi dapat dilakukan untuk aset yang pemanfaatan dayanya (pembebanan kos menjadi biaya) jelas setiap periode akuntansi. Misalnya, Gedung dapat digunakan selama 10 tahun, yang mana pemanfaatan selama 10 tahun ini diasumsikan merata. Sehingga, pemanfaatan daya (kos) yang dilakukan atas  gedung tersebut rata selama 10 tahun. Dalam kata lain, setiap tahunnya entitas membebankan kos menjadi biaya, karena kos tersebut telah dimanfaatkan. Untuk goodwill, apakah pemanfaatan goodwill ini dapat ditentukan? Seberapa besar pemanfaatan daya goodwill yang dilakukan setiap tahun? Seberapa lama goodwill ini dapat dimanfaatkan dayanya? Jika kembali ke definisi goodwill, daya melaba dari goodwill bergantung pada kemampuan entitas mengelolanya. Dalam arti lain, taktentu. Untuk lebih lengkap, baca di sini.

Nah, perlakuan akuntansi untuk goodwill di IFRS yang saat ini ada, menurut saya sudah tepat. Sama seperti aset takberwujud dengan masa manfaat yang taktentu, goodwill tidak perlu diamortisasi, cukup diuji jika ada indikasi penurunan nilai. Secara konsep, ini lebih mencerminkan sifat goodwill, dan dalam laporan keuangan pun akan mencerminkan apa itu goodwill dan kejadian ekonomik apa yang terjadi pada goodwill (bukankah laporan keuangan itu menceritakan kejadian ekonomik). Nah, karena goodwill itu tidak teridentifikasi, pengujian penurunan nilai dilakukan atas sekelompok unit penghasil kas (goodwill yang mencerminkan daya melaba lebih dianggap melekat dalam unit penghasil kas).

Bagaimana jika goodwill diamortisasi dan diatur dalam standar akuntansi? Misalnya diamortisasi selama sepuluh tahun, atau bisa kurang dari itu jika ada judgement dari manajemen.

Jawabannya, apa dasar bahwa daya melaba dari goodwill itu sepuluh tahun? Apa asumsinya (biasanya justifikasi dunia akuntansi kan asumsi). Apakah sepuluh tahun (atau kurang) ini mencerminkan konsep dilakukannya amortisasi/depresiasi atas aset? Bukannya konsep depresiasi adalah menceritakan kejadian pemanfaatan daya yang terkandung dalam aset pada suatu periode akuntansi (the process of charging cost into expense). Bahwa proses pemanfaatan daya dalam kegiatan usaha ini mencerminkan pemanfaatan secara normal dan harusnya memiliki dasar konseptual yang kuat.

Mengapa suatu standar akuntansi yang sejauh ini menjadi idola baru karena principle based, mengatur suatu hal yang sifat pengaturannya malah rule based. Kembalinya goodwill diamortisasi malah membuat seakan-akan penyusunan standar IFRS sebetulnya tidak mendasarkan pada prinsip, apalagi konsep aset, konsep cost, konsep expired cost (mari dicari tahu).

IASB sedang galau kali ya? Tapi, bisa jadi juga analisis saya yang salah. Apa sih kebenaran abadi itu? Hehehehe…

Sebagai penutup, berikut kutipan sebuah lelucon,

Theory is when one knows everything but nothing works. Practice is when everything works but nobody knows why. In our lab, theory and practice go hand in hand: nothing works and nobody knows why.

Seharusnya, IFRS dapat menjadi standar yang berterima global dan setiap akuntan mengerti kenapa. Bukannya menjadi standar yang susah diterapkan, banyak judgement, dan nggak ada yang ngerti kenapa pengaturannya seperti itu.

Jika ada opini lain, silakan dibahas di sini. Apapun hasil dari IASB nanti, mau nggak mau itu akan diterapkan. Itu tidak masalah, yang penting happy.

Baca Juga :