Generasi Muda Harus Warisi Sifat Kritis Oto Iskandar Dinata

Generasi Muda Harus Warisi Sifat Kritis Oto Iskandar Dinata

Generasi Muda Harus Warisi Sifat Kritis Oto Iskandar Dinata

Raden Oto Iskandar Dinata merupakan salah satu pahlawan nasional asal Jawa Barat.

Lahir di desa Bojongsoang, Dayeuhkolot, Bandung Kidul 31 Maret 1897. Ayahnya bernama R. Nataatmaja dan ibunya bernama Siti Hadijah.

Oto merupakan tokoh besar bangsa ini. Kritikannya terhadap pemerintah Belanda pedas hingga ia dijuluki “Si Jalak Harupat” — ayam jago yang pintar berkokok dan selalu menang jika diadu.

Generasi muda masa kini tentu belum mengenal Raden Oto Iskandar Dinata yang namanya diabadikan menjadi nama jalan dibeberapa

daerah ini. Karenanya, Iip D. Yahya merangkum kisah hidup Si Jalak Harupat dalam buku Oto Iskandar Di Nata: The Untold Story.

Buku yang disampaikan dalam bentuk biografi politik oleh Iip D.

Yahya juga menceritakan kisah kematian Otto yang tragis.

“Buku ini saya tulis secara flashback, saya menulis bagaimana seorang Oto Iskandar Dinata dibunuh di tepi pantai Ketapang, Mauk Tangerang tanggal 20 Desember 1945. Itu yang terus menjadi pertanyaan kita, hingga menginspirasi saya untuk menulis buku ini. Setelah ini saya rasa ini sudah terjawab, sehingga tidak perlu dipertanyakan lagi mengapa ia dibunuh,” kata Iip usai Bedah Buku Oto Iskandar Di Nata: The Untold Story di Kampus Universitas Pasundan Jalan Lengkong Besar Kota Bandung, Selasa(14/11).

Iip mengatakan buku ini tidak menjelaskan secara utuh biografi Pak Oto, tetapi kiprah politiknya. Bagaimana Oto mendirikan Paguyuban Pasundan maupun di tingkat nasional hingga meninggal.

“Lewat buku ini saya ingin mengajak masyarakat, sudahlah masalah kematian Oto titik sampai disini. Sekarang kita bahas dan kita diskusikan apa yang beliau lakukan sebelum tanggal 20 Desember 1945, itu jauh lebih penting,” tuturnya.

Ia mengatakan Oto dikenal sebagai tokoh besar yang membangun Paguyuban Pasundan

. Tak seperti organisasi lain, Paguyuban Pasundan hingga kini semakin membesar.

“Nah ini pasti kan ada sesuatu yangg tidak kita ketahui, karena pengetahuan tentang beliau sedikit sekali,” tukasnya.

Sementara akademisi Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Pasundan, Vera Hermawan M.I.Kom mengungkapkan buku ini menceritakan kisah-kisah yang belum terungkap, sepertii kiprah Oto membangung Paguyuban Pasundan.

“Bagaimana kiprah beliau membangun kesejahteraan di bidang pendidikan yakni Paguyuban Pasundan hingga berkembang dan memiliki lembaga pendidikan, bantuan hukum, bank dan sebagainya,” kata Vera.

Ia mengatakan, hingga hari ini Unpas dibawah Paguyuban Pasundan masih melaksanakan warisan sesepuh, karena mereka meninggalkan nilai-nilai kesundaan.

“Hari ini kita masih konsen mengurangi kebodohan melaui pendidikan. Dengan institusi dan wadah yang jelas kita siap membangun generasi muda bukan hanya berwacana tapi juga masa depan jelas,” ujarnya.

Vera menekankan, dengan masih menggenggam nilai-nilai kesundaan warisan leluhur, bukan berarti menerapkan politik primordialisme atau kesukuan

“Bukan kita bicara etnis, tapi kita menerima dari etnis manapun. Nilai kesundaan ini adalah warisan sesepuh yang tergambar dalam dalam nilai dan falsafah semangat kebangsaan yang mewarnai tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” tandasnya

 

Sumber :

https://baricentrale.net/fungsi-keringat-bagi-tubuh-manusia/