Aku Sang Kartini Milenial

Aku Sang Kartini Milenial

Aku Sang Kartini Milenial

“Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau

dapat bermimpi!. Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup?. Kehidupan yang sebenarnya kejam. “Tidak ada sesuatu yang menyenangkan, selain menimbulkan senyum diwajah orang lain, tertutama wajah yang kau cintai.” Kutipan kata-kata kartini inilah yang medorongku berdiri tegar menghadapi dunia, ya duniaku sebagai wanita Indonesia, sebagai seorang isteri, sebagai seorang ibu dan sebagai seorang kakak.

Dilahirkan sebagai anak pertama dari delapan bersaudara.

Ditinggalkan ibu semenjak adik- adikku belum lagi bisa mengurus diri sendiri adalah tugas yang amat berat bagiku. Berat bukan berarti menyerah itulah motto hidupku. Akan ku genggam dunia dengan kedua belah tanganku. Hidup adalah perjuangan, maka kesuksesan adalah sebuah usaha yang dilakukan secara terus menerus hingga pada akhirnya Allah yang menentukan segalanya. Rangkaian kata – kata itulah yang berusaha aku susun dan secara bertahap ku lalui hingga masa sekarang ini.

Beruntunglah walaupun kehidupankku semenjak kecil jauh dari cukup, tetapi bapakku adalah seorang penjaga sekolah yang memiliki keiingian kuat agar anak-anaknya dapat bersekolah. Terbayang dalam benakku ketika pertama kali aku masuk sekolah di usia belum genap enam tahun. Dimana anak-anak disekitar rumahku belum dimasukan sekolah. Ketika itu anak-anak di kampungku masuk sekolah rata – rata sudah berusia 8 tahun. Ketika itu anak – anak oleh orang tuanya diminta untuk memegang telinga tetapi belum sampai menyentuh telinga, berarti belum cukup usia bersekolah. Sedangkan aku sudah ikut bersekolah dengan dengan bapak.

Walaupun statusnya sebagai penjaga sekolah tetapi bapakku

dipercayai untuk mengajar di SD. Hari pertama masuk sekolah aku masuk di kelas 4 SD. Karena bapakku mengajar di kelas 4 SD, awalnya kata bapakku aku jadi anak bawang aja dulu ikut belajar di kelas 4 SD. Entah berapa lama aku duduk di kelas 4 SD, sampai akhirnya aku pun pindah duduk dikelas 1 SD. Kata bapakku walaupun kecil dan masih cadel ( belum bisa menucapkan huruf R dengan benar) dalam berbicara tetapi sejak kecil aku sudah memiliki keinginan yang kuat untuk sekolah.

 

Baca Juga :