220 Santri Ikuti STQ Tingkat Botim DI PPIB

220 Santri Ikuti STQ Tingkat Botim DI PPIB

220 Santri Ikuti STQ Tingkat Botim DI PPIB

Sekitar 220 santri usia sekolah dari enam kelurahan di Kecamatan Bogor Timur

(Botim), Kota Bogor, mengikuti Seleksi Tilawatil Quran (STQ) tingkat Kecamatan Bogor Timur di gedung Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB), Jalan Pajajaran, Kelurahan Baranangsiang, kemarin. Kegiatan ini dibuka Camat Bogor Timur Adi Novan.

Menurut dia, kegiatan ini bertujuan untuk menggali potensi dan bakat umat menuju generasi Qurani yang unggul, cerdas dan berakhlakul karimah. “Kami juga ingin meningkatkan semangat dan kepedulian masyarakat, khususnya warga Bogor Timur, agar gemar membaca, memahami, menghayati dan mengamalkan Alquran hingga mendapatkan qari qariah dan hafidz hafidzah,” katanya saat ditemui Metropolitan, kemarin.

Adi menjelaskan, STQ merupakan salah satu tolok ukur untuk mengetahui sudah sejauhmana

pembinaan dan kinerja LPTQ di Kecamatan Bogor Timur. Sehingga dengan proses dan mekanisme yang ada hingga ketentuan yang ditetapkan akan mendapatkan hasil terbaik untuk mewakili Bogor Timur ke tingkat Kota Bogor.

“Kami sebagai pemerintah kecamatan akan terus berupaya memberikan stimulus kepada generasi muda, khususnya di Bogor Timur, untuk lebih mencintai dan mendalami Alquran,” bebernya.

Untuk itu, Adi berharap program pembinaan umat di Kecamatan Bogor Timur bisa berjalan dengan baik

, sehingga akan menjadikan Botim lebih baik.

Sementara itu, Ketua Panitia STQ Kecamatan Botim Abd Wahid menjelaskan, STQ 2017 akan memperlombakan sepuluh cabang. Di antaranya lomba tilawah anak anak putra/putri, tilawah remaja putra/ putri dan tilawah dewasa putra/putri. Lalu, Lomba Qiro’at Sab’ah, Murottal sert tahfiz 1 juz, 5 juz, 10 juz, 20 juz dan 30 juz.

”Yang terbaik nantinya akan mewakili Kecamatan Botim ke tingkat Kota Bogor. Tapi sebelum bertanding pada Desember 2017, peserta terbaik akan menjalani pembinaan,” singkatnya.

 

Sumber :

https://www.artstation.com/ahmadali88/blog/8AZL/the-origins-of-javanese-in-history